TRIO KONGSI GERILYA




Awalnya, Mario tertarik oleh sejumlah tulisan Dion di Blog Padepokan Gerilya yang banyak melemparkan gagasan non blok : musik tanpa sekat. Bahwasanya tak perlu lagi ada dikotomi mayor maupun indie di dalam bermusik. Dalam paparan Dion, ke-beda-an keduanya hanya disebabkan oleh factor budget. High dan low. Toh pun kalo berbicara budget, tak bisa dipungkiri produsen seni akan tetap selalu merasa kekurangan jika tujuannya adalah perfect. Merasa satu kepala, Mario kemudian mengontak Dion via YM. Sejumlah diskusi akhirnya mengalir di satu tahun pertemuan awal, baik di darat maupun dunia maya.

Siasat ber-kongsi atau bersekutu atas satu tujuan, disadari atau tidak, mampu memperkuat posisi tempur di tengah pergulatan musik Indonesia yang gegap gepita. Hal ini diyakini benar oleh tiga komunitas yang sebelumnya masih saling berdiri sendiri-sendiri, yakni : Urbanoir Indonesia (Pondok Gede, Jaktim), Padepokan Gerilya ( Depok, Jabar) dan Jaring Setara (Jaringan Sekutu Nusantara – Indramayu). Persekongkolan ini telah berjalan kurang lebih hampir tiga tahun dan terus bergerak hingga sekarang. Uniknya, ketiga komunitas ini memiliki karakter yang berbeda. Urbanoir Indonesia berbasic Management artis dan Event Organizer dengan komandannya Mario, Padepokan Gerilya berbasic Music dan Video Activity dengan Dionys Dhewanindra sebagai penjaga gawang, sedangkan Jaring Setara berbasis publistik dengan Ambar “Akunk” sebagai dedengkotnya.
Hampir bersamaan dengan itu, Dion yang juga penggerak proyek duet rock “ The Elexyoben” melakukan perjalanan show di beberapa kota. Di kota Indramayu, Ambar “Akunk” mendatangi Dion di belakang panggung. Setelah berkenalan, Penyiar sekaligus motor Radio Metal Veronica FM ini terlibat diskusi panjang tentang pasar musik Indonesia. Sama halnya dengan Mario, diskusi ini terus berlanjut via tepon maupun dunia maya. Singkat cerita, setelah saling mengenali isi kepala, ketiganya lantas sepakat berkongsi dalam sejumlah pergerakan kreatif. Bukan hanya sebatas kongsi individu, tapi juga komunitas.
Laboratorium Gagasan adalah salah satu forum yang dibentuk ketiganya dengan tujuan melemparkan sejumlah wacana-wacana tentang dunia musik. Teknologi komunikasi yang terbuka lebar dewasa ini, menjadi andalan mereka dalam melemparkan wacana ke dunia luar. Kala itu, beberapa gagasannya sempat dipublikasikan di Forum Musik Gerilya (Formula ) dan selalu mendapat tanggapan dari anggota grup yang jumlahnya ribuan.
Biasanya gagasan-gagasan itu lahir dari “ Diskusi Ronda “, yakni sebuah ajang diskusi yang dimulai jam 7 malam hingga jam 5 pagi di Padepokan Gerilya.
Sejumlah program layanan juga di garap untuk membantu musisi-musisi berbudget low. Program yang paling banyak diikuti hingga kini adalah “ PRO EDAN (Program Edan-Edanan) “ , yakni sebuah program dimana band-band berbudget mepet memperoleh peluang memproduksi album maupun video klip dengan cost yang amat sangat rendah di studio Padepokan Gerilya.

Bagi band yang serius dan berniat menggerilyakan produksi musiknya secara mandiri, Urbanoir Indonesia tentu siap memback up perjuangan mereka lewat program GETAH (Gerilya Tanpa Henti). Sejumlah website, blog, grup jejaring social dan media lainnya juga telah di bangun dan di upgrade setiap saat untuk membantu promosi swalayan bagi band maupun solois. Untuk materi musik yang menarik, team Urbanoir tak segan-segan menggiringnya ke sejumlah jaringan media agar dipublikasikan lebih luas. Tak sedikit juga yang lantas disulap menjadi Ring Back Tone atau bahkan di edarkan sebagai “barang jualan”..
Seperti motto mereka “ JANGAN BERHENTI BERGERAK “, Urbanoir Indonesia tak kenal lelah selalu siap mengawal pertunjukan live off air maupun on air TV bagi band yang dianggap“ lolos tempur.” Deskripsi “Band Lolos Tempur” yakni band yang secara materi musik, skill, performance dan yang paling utama adalah “ mentalitas “ telah dianggap cukup proses pematangannya. Lama tidaknya proses pematangan itu sangat tergantung niat band tersebut saat awal bergabung.
Jaring Setara juga tidak tinggal diam. Mereka menggarap sejumlah produksi gerilya berbasis media FM yang bertujuan merelay program para sekutunya. Meski tempatnya di Indramayu, diskusi juga sering di gelar sebagai perpanjangan gagasan. Berbeda dengan Jakarta, Jaring Setara melakukan diskusi justru di pinggir jalan secara lesehan. Terkadang sejumlah anak motor antik ikut nimbrung di dalamnya. Hasil-hasil diskusi tersebut di rangkum dalam bentuk artikel-artikel pendek dan dipublikasikan terbuka.

Pada prinsipnya, persekutuan tiga komunitas ini mengandung tiga konsentrasi utama yakni : Produksi, Marketing dan Publikasi. Jika strategi gerilya kemudian dipilih sebagai siasat, itu karena memang hal demikianlah yang paling mungkin dilakukan saat ini. Secara singkat, gerilya diartikan sebagai : kegiatan sporadis dan terus menerus bergerak merayap dari pinggiran menuju pusat tujuan.
Untuk itu, sejumlah serangan sengaja diagendakan meski dengan memaksimalkan apapun senjata di tangan.
Syahdan, sejarah membuktikan, perjuangan gerilya selalu berhasil mencapai sasaran hanya dengan satu syarat : JANGAN BERHENTI BERGERAK !.
Salam Kreatif


Catatan kaki :
1) Jogja dalam pendudukan Belanda berhasil dikuasai gerilyawan Indonesia di tahun 1949
2) Saigon dalam pendudukan Amerika berhasil dikuasai gerilyawan Vietcong di tahun 1975

0 comments