Download Form Members SOBATINDIES

Search Result

5/07/2009

Selesai Sudah Perjalanan Antar Region

Selesai sudah pencarian bibit-bibit berbakat di tiap region Indonesia lewat A Mild Live Wanted 2009. 12 band sudah berkumpul, dan siap diadu lagi bakatnya, musiknya serta aksi panggungnya di grand final A Mild Live Wanted 2009 yang diadakan di Eldorado Bandung, 30 Mei mendatang. Dewan juri bisa merehatkan diri sejenak, dan sekarang saatnya keduabelas band finalis lah yang harus lebih concern menghadapi grand final nantinya.

Dari keduabelas finalis tentu saja yang dicari hanya akan ada tiga pemenang utama, yaitu juara pertama, kedua, dan ketiga, dan ada juga juara favorit yang bisa Loe pilih sendiri di amild.com. Apa yang telah juri liat beberapa waktu kebelakang membuahkan catatan-catatan tersendiri tentunya. "Jujur saja kita semua punya pilihan masing-masing dalam menentukan juaranya, tapi itu hanya sebatas subyektifitas juri. Bukan berarti mutlak menang, kan yang kita nilai nanti di panggung, bukan kemaren-kemaren," kata Capung.

Keduabelas band tersebut adalah, Napoleon asal Pontianak, Coffee asal Samarinda, Cartoon dari Makassar, X-Po dari Ambon, Ardo and Delights dari Denpasar, Sinar asal Medan, Prasasti dari Pekanbaru, Inverno dari Palembang, MPV dari Jakarta, Supernova asal Purwokerto, Display asal Yogyakarta, dan terakhir The Essens dari Malang, yang akan menghabiskan sisa waktunya sekarang ini demi penampilan yang maksimal. Setelah terpilih, para finalis saat ini masih menjalani coaching dengan radio-radio setempat, demi mendapatkan bekal di industri musik.

Selanjutnya mereka semua akan dikirim ke Jakarta untuk rekaman. Di sini mereka akan ditentukan oleh pihak panitia akan mendapatkan mentor atau produser siapa dalam menggarap single-nya yang akan masuk dalam album kompilasi A Mild Live Wanted 2009. Tentu ada pertimbangan tersendiri, siapa yang akan mendapatkan produser mana, dan itu akan dipilih berdasarkan karakter bermusik tiap band. Tidak asal pilih, atau juga untung-untungan seperti lotere, melainkan dengan berbagai macam pertimbangan.

Belum lengkap kalau hanya sebatas rekaman saja pengalaman yang bisa diterima dari para finalis. Bila dibentuk secara musikalitas sudah bisa dianggap cukup, saatnya mengerti soal seluk-beluk industri secara mendalam lewat workshop yang diadakan di Jakarta pada tanggal 27-29 Mei mendatang. Di sini finalis akan dibukakan pikirannya oleh orang-orang yang memang kompeten di bidangnya, baik itu produser, pemerhati musik atau media, orang industri atau label, bahkan cerita-cerita atau pengalaman dari kedua juara sebelumnya.

Bekal-bekal tersebut bukan sekedar bekal untuk manggung di grand final. Jauh daripada itu, diharapkan petuah-petuah dan juga pengalaman yang telah dibagi bisa menjadi bekal band-band itu sendiri nantinya. Anggaplah lepas dari A Mild Live Wanted ini, mereka semua diharapkan bisa hidup mandiri, dengan cara yang benar. A Mild Live Wanted memberikan total experience kepada para finalis demi mendukung mimpi-mimpi para peserta sebagai musisi. (ip)

Jawa Timur Memunculkan Vokalis Perempuan


Akhirnya setelah melewati duabelas regional A Mild Live Wanted 2009, di kota Surabaya tim dewan juri yang terdiri dari Capung, Noey (Java Jive, Produser), Bhita Harwanti (I-Radio), dan Boy Gaok (Produser, Female Radio) menemukan band yang bervokalis perempuan dengan kualitas musik di atas rata-rata, Minggu (03/05). Final regional A Mild Live Wanted 2009 untuk Jawa bagian timur menghasilkan juara pertama The Essens dari Malang, juara kedua Taxi juga dari Malang, juara ketiga Ethic dari Surabaya dan juara favorit pilihan music maniacs, Angin dari Surabaya.

"Jujur saja, kita (dewan juri) sangat berharap mendapatkan band dengan vokalis perempuan yang benar-benar bagus, dan baru di sini kita menemukan The Essens. Kalau dibandingkan dengan band yang tampil hari ini The Essens sangat menonjol dari segi musik dan juga penguasaan panggung yang nge-blend antar personilnya," ungkap Capung. Ia juga menambahkan kalau bukan semata-mata membutuhkan band dengan vokalis perempuan demi menghiasi album kompilasi nantinya, melainkan menjadi sebuah pilihan yang salah sekali kalau band semacam The Essens tidak bisa lolos ke babak grand final di Bandung tanggal 30 Mei nanti.

"The Essens kalau kata saya sangat bisa bersaing dengan kesebelas band lainnya, dari segi lagu, musik, dan juga hiburan panggungnya," lanjut Capung. Seperti apa yang juga dikatakan oleh vokalis The Essens, Dita, soal keuntungan mereka menggunakan vokalis perempuan. "Kita mencoba menambahkan warna pelangi di musik Indonesia," katanya.

The Essens sendiri sangat tidak percaya nama mereka bakal disebut sebagai juara pertama, kalau kata mereka ada istilah "kalah cacak menang cacak," yang berarti kalah menang harus tetap dicoba. Dengan menerapkan istilah tersebut mereka malah bisa main tanpa beban apapun yang menghasilkan aksi panggung yang lepas dan bisa berbaur antar personilnya. "Menang kalah, kita harus coba. Kalau niat sih kita memang niat, karena Momo (guitarist) harus sengaja mengirimkan fax fotocopy KTP dari Lampung malam-malam cuma untuk daftar Wanted," kata Inuk (drummer).

Bicara soal kekuatan yang mereka miliki, tidak ada pilihan lain selain kekuatan batin yang memang dibangun antar personilnya. Bagi mereka dari situlah asalnya musik yang bisa dinikmati secara emosional, kesamaan visi dan isi kepala dalam menciptakan musik dan menjalankan hidup sebagai musisi. Seperti apa janji mereka, "kalaupun memang nanti harus berhenti kuliah demi musik, ya kita bakal ngejalanin itu," tutup Inuk. (ip)

Pop Ala Display Menuju Grand Final



2 May 2009 Dewan juri A Mild Live Wanted 2009 ragional Jawa Bagian Tengah hampir setuju dengan keputusan mereka memilih Display sebagai juaranya. Di mata Capung, Noey (producer, Java Jive), Boy Gaok (producer), dan Yanto Sutardji (Trinity Optima Production), Display bisa mewakilkan berbagai macam kriteria yang telah mereka tentukan. Hingga band terakhir tampil di panggung, rupanya tidak ada yang bisa menggeser pilihan juri yang hampir saklek tersebut. Selain Display, Rhen-sae mendapatkan juara kedua dan juga favorit, dan Sun Flower untuk juara ketiganya.

"Display bagus banget mainnya, lagunya juga komersil, dan skillnya juga di atas rata-rata, belum lagi gaya panggung yang terkesan kalem tapi itu malah kayak yang punya gaya sendiri," Capung beralasan. Bervokalis yang sekaligus memainkan gitar utama memang bukan sesuatu yang baru di Yogyakarta, ada beberapa band yang bermain dengan formasi tersebut. Masih menurut Capung, Display jauh lebih baik daripada band-band yang berformasi seperti itu.

Hal tersebut juga cukup diamini oleh Display. "Menurut kita yang berbeda adalah personilnya. Yudi main gitar sambil nyanyi itu adalah salah satu gaya yang beda sekarang ini," kata Azis (bassist). Benar juga apa yang dikatakannya, kebanyakan band yang ada sekarang ini sangat terpatok dengan formasi yang begitu-begitu saja, vokalis, dua guitarist, bassist, dan drummer, atau kalau kurang lengkap ditambah satu orang keyboardist.

Tidak secara frontal Display menggeser musik yang sedang diminati. Mereka punya cara sendiri dalam menyampaikan sisi popnya. "Kita memang musik yang dibawakan rada nge-rock, karena emang influence saya pribadi salah satunya adalah Metallica. Makany lirik yang saya buat harus terdengar mudah dimengerti, jelas, dan enak dinyanyikan. Itu adalah cara kita menunjukkan pop," kata Yudi (vokalis, gitaris).

Display bukanlah band baru yang masih bau kencur dalam pengalamannya di dunia musik, dan itu adalah pelajaran terbesar mereka bisa menjadi seperti sekarang. Beberapa lagu telah mereka coba jual secara swadaya, dan untuk lingkup lokal penjualannya diatas 50%. Itu adalah suatu bukti bahwa prestasi mereka diakui oleh music maniacs sekitar, bukan hanya cuap-cuap juri yang mengatakan kalau mereka bagus. (ip)

Cara Yogyakarta Menghibur Music Maniacs


2 May 2009 Yogyakarta menjadi salah satu kota yang menjadi sorotan sendiri di mata industri permusikan Indonesia. Bukan cuma Yogyakarta, kota-kota di sekitarnya, seperti Sragen, Solo, Semarang, dan Pekalongan terkena imbas dari perkembangan musik yang begitu rupa. Jawa bagian tengah punya wajah sendiri untuk musik mereka, dan coba ditunjukkan lewat perwakilannya yang tembus ke babak final A Mild Live Wanted 2009 regional Jawa Tengah di Stadion Kridosono, Sabtu (02/05).

Musik yang mendominasi panggung tidak monoton dengan alunan nada-nada pop atau rock yang biasa saja. Di sini mayoritas tidak biasa, pop yang coba ditunjukkan oleh para finalis bukanlah pop yang biasa kita lihat di layar televisi, tapi sedikit nyeleneh. Tidak ada salahnya perpaduan pop itu dicampur adukkan dengan gaya rock n roll, rock, elektronik, atau bahkan disko, karena tujuannya tetap sama, bisa dinikmati dengan mudah dan menghibur. Yah, Yogyakarta punya gaya sendiri soal urusan panggung.

Setelah minggu lalu di Bandung kita dipersilahkan menikmati indahnya vokal-vokal dominasi wanita, kali ini kita masih bisa sedikit menikmati itu. Selain itu, kita juga menemukan beberapa gaya yang hampir serupa, dengan vokalis merangkap sebagai gitaris inti. Soal memanjakan mata, atribut panggung yang dibawa finalis bisa menjadi gimmick yang rupawan dalam menyedot perhatian, salah satunya dengan kostum yang mencolok.

"Jujur saja kalau soal penampilan perempuan Bandung lebih bagus, tapi untuk penampilan lainnya seperti vokalis yang merangkap gitar, atau juga musik yang beda, dan hiburan panggung, belum ada yang mengalahkan Yogyakarta," kata Capung selaku ketua dewan juri A Mild Live Wanted 2009. Benar apa yang dikatakan Capung, Yogyakarta punya segudang cara dalam memanjakan music maniacs yang hadir.

Tidak salah juga kalau Capung mengatakan kalau Yogyakarta itu adalah salah satu barometer musik di Indonesia. Banyak musik baru yang berkembang di Yogyakarta yang tidak bisa dipandang sebelah mata. "Bandung dan Jakarta memang kadang dilihat orang sebagai salah satu acuannya. Tapi jangan salah, Yogyakarta baik scene indie maupun mayor-nya punya kekuatan lain, yang kalau kita sandingkan dengan kota-kota besar di Indonesia tidak kalah menarik, karena mereka punya gaya sendiri," tutup Capung. (ip)